Resensi Buku : Curcol Kantor (Asal Usil Anak Kantoran)

Posted on
curcol_kantor-scaled1000
image taken from : Kubikel Romance: Curcol Kantor
  • Judul : Curcol Kantor : Asal Usil Anak Kantoran
  • Penulis : Anjar Oktaviani
  • Editor : Anwar Syafrani & Mahir Pradana
  • Proofreader : Dewi Fita & Syafial Rustama
  • Desainer Sampul : Gita Mariana
  • Penerbit : BUKUNE
  • ISBN (International Standard Book Number) : 602-220-001-6
  • Cetakan ke berapa: 5
  • Jumlah halaman : 238
  • Harga : 25ribu (dari salah satu toko buku murah di Mall BTC Bekasi Timur)

Pas ada kesempatan, gue langsung melontarkan small talk basi, “Bagaimana kabar Ibu Yuyun, Pak?” dengan nada sok asik dan sok akrab dan ditambah dengan senyum semanis mungkin. Ya kira-kira tiga sendok deh gulanya…

Si Bos cuma diam dan menatap tajam ke gue. Rasanya kalau bisa diartikan, tatapan itu berarti, ” Diem atau gue gampar lo!”

Teman-teman lain cuma bisa bengong. Sesaat suasana hening kayak ada setan lewat. Gue cuma bisa bingung nggak ngerti. Untung si Onyet bisa menyelamatkan suasana yang sepi kaya kuburan itu. Dia langsung mengalihkan pembicaraan.

Abis makan siang Onyet deketin gue. “Siapa Yuyun, Cum?”

“Lha, bininya bukan?”

“Bukan. Nama bininya Rina”

“Yah, nama panggilannya kali”

“Rina Setyowati. Nggak nyambung”

“Berarti nama anaknya kali”. Gue masih ngeyel.

“Gak ada yang namanya Yuyun”

“Keponakan? Sodara? Tetangga? Temen deh temen…” Gue masih berusaha berargumentasi yang dibalas gelengan kepala Onyet.

Gue sama Onyet berpandangan. Sama-sama curiga tapi maklum.

Pelajaran pertama di tempat kerja. Dilarang sotoy!

Bersambung

Itu adalah salah satu part dari chapter-chapter yang terus menerus membuat aku terpingkal-pingkal dan berteriak dalam hati “GILAK INI GUE BANGET”. Berawal dari kegundahan gulana aku karena menjadi “korban” restrukturisasi organisasi, yang mengharuskan terjadinya rolling pegawai besar-besaran di lingkungan kerja tempat aku bekerja memeras keringat dan air mata. Dan harus berpisah dengan teman-teman yang pindah ke bagian lain which is after several years we’ve been working together. Dan aku sendiri tetap “stay” di tempat lama, hanya saja berganti workmate. Dan karena kewarasan otak sedang berada di titik nadir sehingga butuh suntikan semangat yang remeh temeh. Karena alasan-alasan itulah aku mengambil buku ini dari salah satu rak buku toko buku langganan yang menjual buku-buku murah meriah. Sebut aja akhir bulan dan uang tunjangan kinerja belum cair sementara hasrat membaca harus segera disalurkan, maka dari itu membeli buku murah edisi lama merupakan salah satu opsi. Dan buku ini sukses….sukses bikin aku tambah kangen sama temen-temen lamaku. Hiks…

Buku ini menceritakan kisahnya Cumi menjadi pegawai baru di salah satu kantor di Jakarta Pusat. Dan lebih menitikberatkan hubungan suka duka dan naik turunnya dia dengan bos nya. Yang digambarkan sebagai sosok bos yang narsis (karena mungkin “agak” ganteng), usil, disiplin tapi juga care dengan anak buahnya. Cumi didampingi teman-teman kerjanya yang tak kalah “ajaib”nya dengan si Cumi, seperti si super workaholic Mba Ayu, si abnormal Onyet, Ari sang ahli komputer, Krisna yang punya sifat narsis sebelas dua belas dengan si Bos, dan Mang Ucen seksi sibuk wara wiri sekaligus penolong di kala Cumi dkk males turun buat beli makan di luar kantor.

Chapter demi chapter ditulis Anjar Oktaviani dengan urutan waktu yang tidak runut. Per chapter memiliki judulnya tersendiri dengan cerita-cerita nyata seputar pengalaman Cumi selama menjadi pegawai baru. Beberapa cerita di chapternya terasa sangat real karena mengambil topik yang sedang happening saat itu seperti fenomena korupsi pegawai pajak Gayus Tambunan yang sempat menyita headline pada masanya, atau karena Buku ini keluar ketika Facebook mulai ‘in” di Indonesia, maka muncullah chapter Demam Facebook.

Membaca buku ini di tahun 2017 tuh sama aja kaya membaca buku Lupus waktu sinetronnya sendiri udah ga tayang lagi di tivi. Alias telat banget! Mungkin ini salah satu kelemahan buku komedi genre ini kali ya. Meskipun kisah-kisah di kantornya timeless tapi suasananya ya tetap di tempat atau waktu itu aja.

Aku sendiri menikmati gaya-gaya bahasa komedinya Anjar, mungkin karena gampang banget dicerna dan ga pake mikir. Tahu kan ada gaya bahasa komedi yang bikin kita mikir sampai jungkir balik tapi tetep ga ketemu lucunya dimana. Dan pengalaman-pengalamannya si Cumi seperti telat balik lagi ke kantor pas jam makan siang yang akhirnya dijutekin Mba Ayu, atau waktu dia diamanatin beli ikat pinggangnya si Bos yang ketinggalan di rumah, atau soal kunci hotel yang suka kebawa pulang pas dinas luar. Jadi mikir-mikir ini kenapa ngepas banget siy sama kondisi aku. Hahhaha. Apa suka dukanya di kantor itu keragamannya homogen ya. Hahaha

Eniwei, membaca buku ini perasaan yang terlukiskan adalah ‘Well, you’re not alone, Sinta”. Dan itu udah cukup siy. Maksudnya buku ini sudah cukup mencapai tujuannya. Menginspirasi agar tidak mengulangi kesalahan bodoh yang Cumi sering lakukan. Hahhaha. Atau mungkin Anjar waktu membuat buku ini juga sedang dalam keadaan gundah gegana kali ya sama seperti aku.

Dan ada edisi lanjutannya juga ternyata yang berjudul Masih Curcol Kantor. Karena buku ini membuat aku penasaran lagi mau membaca aksi akrobatiknya Cumi di Kantor. So, lets say that this book is OKEY. Aku kasi 3 bintang yaaahhh dari skala 5 bintang.

 

 

2 thoughts on “Resensi Buku : Curcol Kantor (Asal Usil Anak Kantoran)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *