Event, Miko dan Mikha, Mimi

Pengalaman “Ajaib” di Festival Dongeng Internasional Indonesia Bagi Miko dan Mikha

Festival Dongeng International Indonesia telah berlalu lebih dari sebulan. Tetapi kenapa imaji dan pesonanya masih mengangkasa di pikiran dan terbenam di kalbu ya. Terus terang aku jarang membawa Miko dan Mikha ke sebuah event educational anak-anak yang berskala International. Wait, hmm bukannya jarang siy ya. Tapi jarang banget kan emang event edukasi berskala internasional yang diadakan “bukan di mall”. Weekend buat Miko dan Mikha selama ini hanya berkisaran keliling mall, staycation di hotel di luar kota, car free day, ke perpustakaan sesekali or just ngendon di kamar sama mimi -nya during all weekend.

Dan moment FDII 2017 ini begitu tepat, seakan ingin merefresh bonding dengan Miko dan Mikha yang kerap tertunda dengan rutinitas kantor yang terkadang menjebak. Dinas keluar kota, meeting dan aktivitas blogging menyerap quality time bersama anak-anak. Meski berusaha melakukan manajemen waktu yang efisien, dibantu dengan seperangkat tools dunia maya seperti whatsapp dan video call, tapi tetap kehadiran secara nyata di depan anak-anak memerlukan intensitas yang lebih.

Dan FDII 2017 menjawab segalanya. Togetherness, kreativitas, passion dan compromise merangkul kami dalam balutan tawa serta senyum indah.

Bagi aku dan keluarga, ini momen Ajaib kami di FDII 2017 yang di selenggarakan tanggal 4-5 November silam.

1. Pulang Pergi Naik Commuter Line

Ini bukan yang pertama siy Miko dan Mikha naik commuter line. Tapi, kalau ga karena ada event FDII 2017 agak mikir-mikir juga bawa duo maut ini naik kereta Hahaha. FDII 2017 diadakan di Perpustakaan Nasional RI di sebelahnya Balai Kota. Akses paling gampang dari Bekasi ya naik kereta, berhenti di stasiun Gondangdia dan naik bajaj ke Perpustakaan Nasional. Pulangnya juga dengan rute yang sama, beda nya kami mampir dulu makan bubur ayam legendaris di Cikini, meanwhile Miko dan Mikha makan KFC di seberangnya. Sehabis makan malam, lanjut jalan kaki ajah ke stasiun Cikini. Karena Miko dan Mikha tingginya sudah di atas 90cm , jadi harus beli kartu Commuter sendiri. Girang banget mereka bisa tap kartu sendiri, Hehhehe. Terakhir ngajak Miko dan Mikha naik kereta setahun yang lalu (yes i know, udah lama banget) Mikha mendadak pengen naik kuda poni dan nangis-nangis minta turun. Sementara Miko siy udah anteng ya dan udah mulai menikmati perjalanan. Tapi, perjalanan kemaren Alhamdulillah Mikha sudah ga cranky, dan anteng makan pocky. Miko juga. Untung ada pocky, eeeehhhh…

2. Mojok di Dongeng Corner

Ketika sampai di Perpustakaan Nasional, kita masuk terlebih dahulu ke ruangan yang berbentuk pendopo yang difungsikan sebagai museum. Ada banyak lukisan dan karya seni yang dipajang disana. Sayang, ga terlalu di eksplor karena Miko langsung antusias ngedeprok di sudut museum di dekat pintu keluar menuju bangunan utama perpustakaan nasional. Pojokan tersebut dinamakan “pojok buku”, ada alas duduk, stool warna warni, dan banyak sekali buku. Ternyata ada relawan yang membantu membacakan buku-buku tersebut dengan ekspresif dan interaktif. Seru yah. Miko dan Mikha happy banget.

Miko dan Mikha di Pojok Buku

3. Menikmati Stage Full of Dongeng, Musik dan Tari

Begitu masuk ke bangunan utama Perpustakaan Nasional, kita langsung terperangah. Wah luas dan tinggi sekali ya. Dan kelihatan modern banget. Pengunjung perpustakaan dan penikmat dongeng sudah berdatangan. Ada backdrop yang super guede yang bisa buat foto-foto. Kami sekeluarga ga lupa mengambil gambar disana. Dan panggung utama sudah dipenuhi dengan anak-anak yang antusias. Sudah ada pendongeng yang mengisi di atas panggung. Miko dan Mikha terpaksa menyempil di arena depan panggung, karena sudah penuh banget. Seru nya dongengnya dikemas dengan tidak membosankan. Aku siy yang agak terheran-heran karena ini pertama juga bagiku menyaksikan pendongeng yang sudah malang melintang turun naik panggung. Kita kebagian sesi pendongeng dari India, Arthi Anand Navaneeth yang membawakan dongeng bertajuk ” Ranganna”¬†, yang aku kira dia bakal mendongeng pake bahasa India dan ternyata ngga loh melainkan memakai Bahasa Inggris hehe. Relawan Ayodi (Ayo Mendongeng Indonesia) membantu mentranslate dengan gaya mendongeng yang tak kalah interaktif.

Ranganna

Yang happy adalah Mikha! Serius deh, dia sampai ke depan-depan mau naik ke atas panggung, pas bagian dancing. Jadi presentasinya ga melulu dongeng tapi di selipkan ada yel yel, lagu -lagu sama mengikuti dance yang diperagakan oleh kakak-kakak relawan. Mikha antusias bangetttt, sampai ga peduli sama Miminya. Hahaha. Dia ikut nari-nari sampai muter-muter segala.

Miko sayang ga begitu tertarik. Kenapa ya? Miko siy memang lebih suka baca buku sementara Mikha lebih tertarik di gerak dan lagu. Mungkin itu penyebabnya ya. Atau karena Miko lagi sakit gigi. Entahlah. Tapi melalui FDII Mimi jadi semakin menyelami minat dan kesukaan anak-anak Mimi. Dan tentunya semakin memahami mereka. FDII terbukti menjadi sarana yang baik bagi orangtua untuk lebih meningkatkan kebersamaan bersama anak-anak dan membuka celah bagi mereka untuk lebih terbuka dan berkreasi.

4. My Bravery Mikha

Berkesempatan menghadiri private dongeng session dengan Pendongeng dari New Zealand, Tanya Batt, benar-benar merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Tanya sukses membawa dongeng naik ke level yang lebih berbeda. Dia mampu memberikan perbedaan bahasa menjadi batas yang tidak bermargin. Ekspresinya membaur dengan sukacita tawa anak-anak dan pengunjung dewasa yang menonton. Tak cuma diwujudkan dengan ekspresi muka tapi gerakan, gesture tubuhnya membalur pertunjukan dongeng serupa teater. Dia mampu mengocok emosi penonton, membangkitkan gairah dan menyatukan setiap keberagaman.

Dan ketika Sesi Tanya Jawab, Mikha berani menjawab! Duh untung Mimi nyimak cerita dongengnya, walaupun ga mengikuti dari awal ceritanya karena terlambat masuk kelas, jadi bisa tahu jawaban dari pertanyaannya Tanya seputar isi cerita dongeng yang dia bawakan.

Mikha lari ke depan mengambil hadiah. Dan bersalaman dengan Tanya. She looks happy!

Interaksi Tanya dan Audiens

5. Merasakan Naik Bus Tingkat Keliling Jakarta

Melihat anak-anak yang mulai agak gak fokus karena padatnya acara, Pipi berinisiatif mengajak anak-anak naik Bus Tingkat memutari Jakarta. Tadinya cuma ingin sampai bunderan HI aja , ternyata kita salah naik Bus. Akhirnya rutenya memanjang dari Balai Kota ke Bunderan Blok M, terus balik lagi ke Istiqlal, Pasar Baru, hingga selanjutnya balik lagi ke Balai Kota.

Sudah lama banget ingin ajak anak-anak naik Bus Tingkat ini. Dan akhirnya kesampaian. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Mudah-mudahan Miko dan Mikha udah ga penasaran lagi ya. Atau kalau masih penasaran bolehlah kita ambil rute sampai Kota Tua. Kalau Mimi siy senang aja, Gratis Siy. Hehehehe.

Ish jerawat Mimi keliatan banget hehhee

6. Merasakan Cinta Lewat Buku Dongeng Ajaib Persembahan Relawan Ayodi

Buat yang belum tahu tentang AyoDi bisa baca postingan aku sebelumnya disini ya. Relawan AyoDi menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan Penjaga Mimpi. Dimotori oleh Mochamad Ariyo Zidni atau biasa dipanggil Kak Aio, AyoDi mewujudkan cita-citanya menjaga mimpi anak-anak dengan melahirkan sebuah Buku Dongeng bertajuk “Dongeng Ajaib”. Dongeng Ajaib terdiri dari kumpulan dongeng yang ditulis sendiri oleh para Relawan AyoDi. Aku siy merasakan banget betapa besar cinta para relawan terhadap dunia anak-anak melalui terbitnya buku yang diluncurkan oleh Noura Publishing tersebut. Apalagi yang ditulis juga berisi dongeng-dongeng yang manigficent seperti ada saputangan yang bisa terbang seperti kupu-kupu atau naga merah yang tak bisa lagi menyemburkan api atau juga¬†raksasa yang tersesat di kampung liliput. Wow banget kan, bayangkan imajinasi anak-anak akan terbuncah setelah membaca buku tersebut. Dan anak-anak tidak akan kehilangan mimpinya di tengah semaraknya distraksi moral dan norma di tengah-tengah masyarakat.

Launching Buku Dongeng Ajaib

Dari FDII 2017, aku belajar banyak siy. Yang terutama kualitas waktu yang dihabiskan dengan buah hati. Kadang kita cenderung menukar keterbatasan waktu dengan memberikan materi atau barang. Yang mungkin anak-anak butuhkan, tapi tidak mereka inginkan. Anak-anak memiliki sifat beradaptasi juga sama halnya dengan orang dewasa. Tapi perasaan mereka harus dikuatkan, dan di beri pengukuhan. Yang terlebih lagi mengetahui bahwa kedua orangtuanya menyayanginya dan melindunginya.

Kita sebagai orang dewasa menuntut lebih agar anak-anak mengerti dan memahami kondisi kita. Ya mereka mengerti tapi apakah mereka bisa merasakan cinta dari kita?

Ciptakan momen kebahagiaan bersama anak-anak kita. Mendongeng salah satu koencinya.

Selamat mendongeng, everyone!

1 thought on “Pengalaman “Ajaib” di Festival Dongeng Internasional Indonesia Bagi Miko dan Mikha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *