Tak Berkategori

Memesona Dari A Hingga Z : Pancarkan Pesonamu

Memesona itu Ajaib. Setiap wanita memiliki partikel-partikel ajaib yang terpancar dalam gerak dan tutur bahasa. Hal ini benar adanya, bahkan wanita yang terlahir sederhana sekalipun memiliki pesona diri yang terwujudkan dari berbagai macam kekhasan. Menjadi wanita ajaib, tak lantas memberikan esensi “harus melebihi” atau “tidak boleh kalah” tapi senantiasa mengeluarkan semua potensi dalam diri untuk terus berusaha lebih baik.

Memesona itu Berani. Berani dalam berperilaku dan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Berani melangkah dan tak pernah ragu. Berani berkata tidak untuk hal yang tidak sepatutnya dan berani mengiyakan kebenaran. Berani mewujudkan sesuatu yang pantas diperjuangkan.

Memesona itu Cerdas. Wanita memiliki kecerdasan lahiriah dan naluri alami yang tak terbantahkan. Seorang wanita sejatinya tidak perlu pembelajaran tersendiri untuk menjadi mulia. Karena takdirnya wanita sudah seperti itu. Sesungguhnya proses hamil dan melahirkan sudah merupakan perwujudan hakiki kecerdasan itu sendiri.

Memesona itu Dewasa. Menjadi dewasa tidak dapat dipelajari. Tapi di jalani. Melalui proses hidup yang tidak mudah. Seorang wanita dewasa akan lebih menghargai hidupnya dan tidak menganiaya dirinya sendiri. Dia tegar meskipun sendiri. Dia arif meskipun bersama-sama.

Memesona itu Empati. Ikut merasakan dan ikut tenggelam dalam kesyahduan. Ikut bersama berjuang dan tidak gampang mencela. Wanita yang memesona tidak nyinyir, tidak mudah menghakimi, dan tidak melulu melabelkan seseorang atau sesuatu. Karena dia turut terjun terbawa arus dan berempati.

Memesona itu Filantropi. Penuh cinta kasih dan dermawan kepada sesama. Dia tidak membiarkan pesona dirinya jauh melebihi kasih sayangnya kepada keluarganya, lingkungannya, mereka yang kesusahan, mereka yang tersesat atau mereka yang membutuhkan sesuatu. Seorang pribadi filantropis bersifat murni dan ikhlas serta rela berbuat lebih untuk orang lain.

Memesona itu Gemilang. Penuh prestasi, tidak saja bagi dirinya sendiri tapi bagi orang-orang di sekitarnya. Pancaran gemilang itu muncul di setiap gerak langkahnya. Tidak perlu berlebihan tapi indah. Tidak perlu serba hebat tapi merasuk di jati diri dan menginspirasi orang lain.

Memesona itu Harapan. Karena kehadirannya sendiri selalu diharapkan dan dinanti. Pesonanya mencerahkan, memberikan aura indah. Dia mampu menghadirkan suasana yang penuh pengharapan. Semua itu terjadi karena dia sendiri menggantungkan harapannya pada tempat yang tertinggi sehingga ketika dia melangkah dia tahu harapan akan selalu ada.

Memesona itu Indah. Wanita yang memesona tak dipungkiri adalah wanita yang indah. Tak saja fisiknya tapi pancaran hati dan tutur katanya. Dia memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melihatnya dalam wujud yang utuh. Dia mungkin tidak sempurna tapi mampu membungkus ketidaksempurnaannya dalam pesona yang indah. Tak cukup kata-kata hanya keindahan itu sendiri.

Memesona itu Jenaka. Tidak dibuat-buat. Dia mungkin tidak pandai melucu, tapi sisi humorisnya muncul sendiri. Dia mungkin orang yang serius tapi terkadang mengeluarkan anekdot yang menimbulkan gelak tawa. Dia jenaka karena pribadinya mengeluarkan jiwa positif yang diekspresikan dalam keriangan diri.

Memesona itu Karakter. Wanita berkarakter adalah wanita yang sejatinya memesona. Karakter tersebut timbul sendiri dari dalam dirinya, dan dia tahu akan karakter dirinya dan dia pertahankan dalam setiap langkah hidupnya. Karakter tak berarti menuhankan jati diri, tapi memiliki penguasaan penuh akan dirinya sehingga tidak terjebak dalam arus yang dapat membawanya menjauh dari titik poros kehidupan.

Memesona itu Lembut. Wanita memiliki nilai-nilai kelembutan yang tak dipunyai lelaki. Wanita diciptakan lembut, bahkan untuk mereka yang tidak feminim sekalipun. Kelembutan tidak hanya pada perkataan dan perbuatan akan tetapi pencerminan hati. Hati yang lembut senantiasa memberi, tanpa harapan balas budi. Dan wanita sudah melakukannya jauh-jauh hari tanpa mereka menyadarinya.

Memesona itu Mestro. Ahli di segala bidang. Multitasking. Tidak memberatkan tapi malahan menjadi sandaran. Penuh keahlian dan kecakapan. Tidak hebat tapi serba bisa. Serba bisa tapi tetap arif.

Memesona itu Naluriah. Karena pada dasarnya wanita sudah terlahir dan diciptakan memesona. Enough Said.

Memesona itu Obsesi. Penuh determinasi. Tanpa obsesi mana bisa seorang wanita mempertahankan apa yang dia punya. Atau meraih apa yang dia mimpikan. Wanita memesona yang penuh obsesi akan melahirkan potensi yang lebih dari dalam dirinya. Akan memberikan sumbangsih positif kepada lingkungan dan keluarganya. Akan lebih memesonakan hidupnya.

Memesona itu Positif. Memberikan energi positif dan menularkannya kepada orang terdekat. Dia tak hanya positif bagi dirinya sendiri tapi pancarannya juga memberikan makna bagi orang lain. Positif jiwa dan pikirannya dalam setiap tindakan dan perbuatan. Dia tak berada jauh dari ketenangan hati karena selalu berpositif menggunakan akal hati.

Memesona itu Qalbu. Memesona pada dasarnya bersifat abstrak, sama seperti qalbu. Memesona lahir dari qalbu yang baik. Wanita yang memesona senantiasa memelihara qalbunya untuk selalu putih dan bersih. Bila ternoda dia tak segan memperbaiki. Dan begitulah seterusnya hingga spot hitam pada qalbunya memudar. Dan saat itu dia lebih memesona daripada biasanya.

Memesona itu Rasional. Dia memiliki keyakinan yang dapat diterima akal sehat dalam bertindak. Dia tak meragu tapi juga tak lantas tergesa-gesa. Dia sabar dan teliti dalam mengambil tindakan. Dia tahu kapan dia akan berhenti dan kapan dia akan melangkah kembali. Dia melakukan perbuatan nyata mengimplementasikan perpaduan harmonis antara hati dan pikiran.

Memesona itu Setia. Baik dalam hubungan maupun dalam paham hidup. Dia tidak mudah tergiur oleh godaan atau rayuan. Dia menjaga dirinya tetap on track. Dia tahu bagaimana harus berjalan di jalan yang lurus. Dia setia. Itu saja.

Memesona itu Tangguh. Tangguh mencerminkan wanita yang tak gampang goyah oleh cobaan. Tangguh dibuktikan dengan langkah yang tak pernah putus, dengan usaha yang tidak kenal menyerah, dengan asa yang tak pernah memudar. Dia tahu tantangan ke depan sangat berat tapi dia tak mau bersandar dan beristirahat terlalu lama. Dia terus berjalan.

Memesona itu Unggul. Memiliki kualitas yang dapat dimaksimalkan menjadi potensi diri. Dia tak hanya berdiam diri tapi terus belajar. Dia unggul dari pada yang lain, bilapun tidak dia tahu dia unggul dengan berbagai macam sifat lahiriah dari dalam dirinya. Dan dia tidak rendah diri. Kekurangan dalam dirinya memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengembangkan potensi unggul itu, membuat dia menjelma menjadi pribadi yang memesona.

Memesona itu Visual. Tak ditampik, wanita yang memesona adalah wanita yang memiliki visual diri yang terawat dan terjaga. Tak harus dinilai cantik akan tetapi dia tidak menutupi visual dirinya dengan energi negatif. Dia pandai mengetahui sisi visual dari dalam dirinya yang dapat digunakannya untuk memesona lawan jenis atau teman-temannya. Dia cermat menilai visualisasi dirinya, sehingga dapat memperlihatkan dan mengeluarkan sisi memesona dalam diri.

Memesona itu Wajar. Tidak berlebihan. Tidak mengukur diri terlalu jauh tanpa berpijak di bumi. Melakukan hal-hal yang manusiawi dan lumrah. Dia pandai membatasi dirinya agak tidak melangkah terlalu jauh. Dia merasa cukup bila itu cukup, dan merasa tidak cukup bila memang tidak cukup baginya. Pribadi yang memesona adalah pribadi yang seyogyanya berprilaku di dalam batas kewajaran.

Memesona itu ms. X. Diibaratkan memiliki sifat misterius dalam dirinya. Tidak membiarkan seluruh dunia menelanjanginya. Dia tetap memiliki ruang rahasia dalam hatinya yang disimpannya hanya untuk dirinya dan Sang Pencipta. Dia tidak blak blakan mengemukakan rahasia hatinya. Dia menyimpannya dan hanya membaginya pada mereka yang pantas untuk itu. Dan saat dia mampu menjaganya, maka dialah yang memesona.

Memesona itu Yakin. Percaya diri. Melangkah pasti. Tidak ragu-ragu dan membuang waktu percuma. Dia tahu kapasitas dirinya dan tidak memaksa.Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk menonjolkan dirinya dan kapan seharusnya dia hanya diam. Karena dia yakin dia akan berbuat terbaik. Keyakinannya memberikan hasil yang luar biasa bagi segala usahanya.

Memesona itu Zen. Seimbang. Antara realita dan harapan. Antara dunia dan masa setelahnya. Antara hitam dan putih. Antara akal dan hati.

Dan saat itu lah memesona memancarkan pesonanya yang terindah. Yang disadari sendiri oleh hati dan jiwa. Tanpa perlu pengakuan dari orang lain.

Hatinya tahu, DIA #MEMESONAitu. Dan itu yang terpenting.

12 thoughts on “Memesona Dari A Hingga Z : Pancarkan Pesonamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *