Tak Berkategori

Liburan Tanpa Pipi

Keluargaku itu termasuk yang menganut mahzab spontanitas. Tanpa planning, tanpa preparation, langsung aja gitu, tanpa tedeng aling-aling. Khususnya soal liburan. Pernah loh jauh sebelum aku nikah alias masih gadis, Papi ngajak malam tahun baruan di Bandung. Pergi aja gitu kita ke Bandung, belum tahu mau nginep dimana, belum tahu disana mau ngapain aja, belum tahu situasi di Bandung ramenya kaya apa kalo lagi tahun baruan. Dan happy aja gitu, padahal terjebak macet di alun alun Mesjid Raya, baru dapat kamar jam 11 malam, melewati pergantian tahun di mobil yang stuck karena jalan protokol di Bandung dimana-mana ditutup. Hujan pula, boro-boro ngecek prakiraan cuaca deh. Tapi, itu seninya. Seneng-seneng aja. Wong, masih single ini, belum punya tanggungan.

Setelah nikah dan punya anak dua?

Well, thats a big deal

Walaupun masih ada unsur santainya, yeahh just let it go with the flow. Tapi, ga bisa tuh kemana-mana tanpa persiapan dan double checking.

Lebaran kemaren, aku dan anak-anak ga pulang kampung ke tempat Pipi karena rumah di kampung sedang direnovasi. Akhirnya, Opa ambil inisiatif untuk mengajak kami libur lebaran menginap dua malam di Puncak. Booking hotel dan persiapan kendaraan sudah dihandle sama Opa. Kita tinggal bawa diri aja. Cuss, berangkat. Berhubung ini pertama kalinya aku liburan sama anak-anak tanpa suami, semua terasa agak berat. Baru nyadar kalau aku ternyata masih sangat bergantung sama Pipi dalam mengurusi anak-anak.

Siapin emosi dan mental dalam menghadapi anak-anak yang jadi super cranky selama liburan tanpa Pipinya

Ini penting banget karena Miko dan Mikha terbukti jadi super duper manja dan gampang emosi tanpa kehadiran Pipi nya. Apalagi Miko yang memang dekat sama Pipinya. Kekesalannya karena ga bisa bersama Pipinya jadi dilampiaskan ke aku dengan teriak-teriak ga jelas dan marah-marah ke aku kalau aku telat kasi attention ke dia. Yang aku lakukan untuk mengatasi ini adalah pertama, menghela napas panjang dan mengurut dada hehhee, kedua, aku berusaha sebisa mungkin menjelaskan ke Miko dan Mikha kalo Pipi hanya pergi sebentar dan akan segera kembali di tengah-tengah kita. Sebisa mungkin mataku dan mata mereka saling menatap ketika menjelaskan ini. Jadi aku bisa memberi pengertian lebih dan memberikan rasa aman lewat eye contact itu. Ketiga, aku berusaha memberikan perhatian penuh kepada mereka dan memeluk mereka sesering mungkin.

Check and do double checking on Miko Mikha stuff

Buat keperluan Miko Mikha aku wajib bawa :

  1. A lot of clothes and their accessories

Sebenarnya kalau menganut paham traveling yang baik dan benar, teori ini ga layak dipraktekin. Tapi aku bukan tipe yang “ouch, my babies clothes is running out, easy…nothing to be worry about cause there’s a lot of factory outlet near hotel”. Kalo emang mau belanja di FO ya emang karena mau belanja bukan karena butuh harus dipakai saat itu juga. Karena nanti belanjanya jadi terburu-buru dan esensi shopping rushnya jadi berkurang. Alaah…

Jadi harus bawa baju seabrek, dari mulai baju tidur, baju yang nyaman selama di jalan, underwear, sendal, sepatu, kaos kaki, baju renang, jaket dan sweater.

2. Snack dan Minuman

Kalo ini kemana-mana harus dibawa ya. Biasanya aku siapin buat anak-anak Biskuit, kentang goreng, wafer, susu uht. Untuk Mikha yang suka kue jajanan pasar biasanya aku bawain kue-kue basah seperti lontong, lemper, kue mangkok dan lain lain. Dan bawa air putih yang banyaaakk.

3. Obat-obatan

Aku selalu bawa obat-obatan buat anak-anak kemanapun kita pergi. Salah satunya adalah Obat penurun demam yaitu Tempra.


Tempra sudah turun temurun aku gunakan untuk first aid. Karena terbukti Tempra cepat menurunkan demam, karena langsung bekerja di pusat panas dan tidak menimbulkan iritasi lambung. Rasanya itu loh rasa buah-buahan yang disukai anak-anak.

Selain obat penurun demam aku juga wajib bawa minyak kayu putih, balsem Vic*s, plester, perban, Rivanol dan betadine.

There’s no rule in our vacation 

Skip breakfast and eat pringles? Go ahead

Ice cream party at night? We can do it!

Playing in the swimming pool and playground all day long? Absolutely!

Intinya have fun aja. Semua rule yang ada di rumah dilanggar dulu buat sementara. Hehhe. Tapi tetep dikasi pengertian ke anak-anak ini cuma berlaku waktu holiday. Dan tetap memperhatikan keselamatan dan kesehatan tubuh.

Mikha sukaak banget main di playground.

Apalagi main perosotan hahha.

Main di air? Berani dunk

Kaka Miko ga berani nyebur hehhe

Ahh those v sign…

Melihat senyum-senyum mereka, bisa dibilang Liburan Tanpa Pipi ini berhasil! Anak-anak senang Mimi meskipun agak capek juga ikutan senang. Dan liburan kemaren bikin Mimi agak pede juga karena Alhamdulillah bisa handle anak-anak tanpa bantuan Suami. Karena kan kadang ga selamanya kita harus didampingi Suami. Yeah that vacation really kick my thought a lot. Thanks God.

“Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho.”

9 thoughts on “Liburan Tanpa Pipi

  1. seperti keluarga kakak iparku mba, tanpa janjian dan tanpa planning ujug-ujug udah ayo aja hahah, saya juga selalu sedia Tempra saat liburan bareng anak-anak

  2. This blog, reminds me of novel yang lo tulis sendiri pake pulpen belang-belang. Waktu itu gw masih SD atau SMP dan yah ngerti aja sama tulisan lo. Ringan & Alurnya bikin mudah dipahami.

    Soal nulis emang lo jago, tapi coba disuruh gambar…tetep gw paling jago di rumah :p

    1. mbaa kaloo aku kesanaa…aku bawainn sambel terasi 10 kiloo hahha

      tp kapan aku kesanaanya hahhaha…

      secara jauhh bangett..

      btw mbaa makasiii sudah mampirrr..i really appreciate it…:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *