Kakak Miko Masuk SD

Posted on

Masuk SD itu beda sama masuk TK or playgroup. Sensasinya beda aja bagi orangtua maupun si anak. Kalau sudah SD kesannya anak kita yang masih piyik tiba-tiba berasa udah gede aja. “Wah anakku sudah SD, ga terasa ya”..Time flies, perasaan mengharu biru dan sebagainya. Berikut ini adalah keresahan-keresahan yang timbul ketika memasukkan Kakak Miko ke SD bulan Juli 2016.

Kakak Miko masuk SD dengan umur baru 5 tahun 10 bulan. Kalo kata orang dulu ah biasa, ga terlalu muda kok, dulu juga onti nya Miko umur 5 tahun udah SD. Tapi di era millenial sekarang ini, yang pendidikan dasar diarahkan disaat usia sudah siap ajar dan diajar yaitu umur 7 tahun. Kakak Miko masuk SD dengan usia masih sangat-sangat muda. Oke, itu problem pertama.

Kakak Miko masuk SD Negeri biasa tanpa embel embel Teladan, or Bergengsi or lainnya. Kalo aku dulu dan adek-adek biasa masuk SD Negeri deket rumah, dengan fasilitas seadanya, tinggal di kampung, main di kali, dan lain-lain. Tapi, di zaman sekarang ini, tahun 2016 yang sekolah-sekolah dengan berbagai konsep pendidikan rujukan dari luar negeri, dengan fasilitas yang wah dan biaya pendidikan yang melangit telah menjamur di berbagai pelosok negeri, tentu SD Negeri bukanlah option yang dianggap populer beberapa tahun belakangan ini. Oke, itu problem kedua.

Kakak Miko seolah-olah downgrade dari kurikulum TK ( TK swasta) ke kurikulum di SD Negeri. Kakak Miko TK selama dua tahun di TK swasta yang memiliki konsep universal. Bukan TK yang hanya diikuti oleh penganut agama tertentu saja. Di TK Kakak Miko sudah belajar diversity dan tolerance. Ok itu bukan point yang mau diangkat di sini. Tapi pembelajaran di TK dahulu seakan-akan selangkah lebih maju daripada di SD yang baru saja Kakak Miko masuki. Contoh saja di TK dia sudah belajar pertambahan dua bilangan dan konsep pengurangan. Dan waktu di TK dia bisa mengikutinya meskipun harus dengan bimbingan ekstra dari pengajarnya, Tapi masuk SD , dia seolah-olah mengulang pelajaran di TK A dari awal. Dan anehnya yang seharusnya dia bisa karena dia sudah biasa mempelajarinya, tapi di SD malah seakan-akan dia lupa dan seperti anak belum pernah TK. Oke itu problem ketiga.

Selama sebulan Kakak Miko sekolah di SD banyak sekali kemunduran-kemunduran yang aku rasakan. Apalagi secara emosi dia lebih terkuras. Tadi malam, dia ngerjain PR Matematika. Simple aja, cuma konsep lebih besar dari dan lebih kurang dari yang notabene waktu TK sudah dia lahap. Tapi dia ngerjainnya salah. Dan dia keukeuh ketika Pipinya mau memberitahu jawaban yang bener. Bahkan sampai-sampai teriak-teriak histeris dan memukul-mukul kepala.

Kakak miko juga sampai-sampai ga nafsu makan. Sudah dua minggu ini dia ga mau makan nasi dan telor kesukaannya. Cuma nyemil-nyemil biskuit, atau ayam goreng.

Kakak Miko juga jadi cepat emosi dan tidak bisa dibilangin. Apalagi kalau dia ga boleh nonton dvd kesukaannya.

Aku jadi bertanya-tanya apakah Kakak Miko stress dengan lingkungan baru? Apakah Kondisi sekolahnya yang tidak mendukung psikis Kakak Miko? Apakah dia memang belum siap untuk masuk SD? Apakah guru nya yang kurang memperhatikan? Ataukah ada tekanan dari Oma Opa atau orang lain yang membuat dia merasa berat?

Karena sayang sekali karena seharusnya masa-masa SD adalah masa-masa yang menyenangkan. Meskipun setiap aku tanya ” Kakak Miko senang sekolah?” dia selalu menjawab “Senang Mimi”. Haruskah aku hanya bersandar dari jawabannya saja untuk menyakinkan diriku kalau semuanya baik-baik saja dan menganggap ini semua hanya proses dan akan segera berlalu?

4 thoughts on “Kakak Miko Masuk SD

  1. Kasian kaka miko.. 🙁
    Bisa aja stres mi… Coba diajak ngobrol hati ke hati, secara kan di TK lingkungannya beda sama SD sekarang. Emang kalau anak SD kan lebih challenging daripada TK, semoga cepat berlalu yaa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *