Uncategorized

i don’t know how she does it – sibuk berat

I DON’T KNOW HOW SHE DOES IT

by Allison Pearson

SIBUK BERAT

Alih bahasa : Kathleen S.W.

Desain sampul : Natalia

Penerbit : PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Terbit pada : Februari 2005

Jumlah halaman : 472 hal

ISBN 979-22-1220-5

“Mummy akan mengantarku tidur nanti malam?”

“Tidak, Sayang”

Kate Reddy, manajer investasi, ibu dua anak. Hidupnya diperhitungkan hingga ke menitnya dan kepalanya berisi jutaan hal yang harus diingat. Presentasi, konser Natal di sekolah, telekonferensi dengan klien, membatalkan janji spa, mengecek indeks Dow Jones. Tambahkan pengasuh anak tukang bolos, suami yang kesepian, bos yang seksis, dan kekasih dunia maya.. Dengan begitu banyak bola yang melayang di udara, cepat atau lambat salah satunya pasti jatuh juga.

Kate Reddy , bangun dini hari. Pagi hari sebelum natal dan bersikeras akan membuat pai. Sebagai syarat kesempurnaan seorang ibu (tanpa melihat embel-embel ibu pekerja atau bukan), Kate Reddy harus memanggang sendiri kue buatan rumah. Berbekal kue yang dilapisi bungkus mewah Sainsbury, dia memodifikasi kue tersebut agar lebih bersifat “homey”.

Begitulah hidup Kate Reddy, selain harus berjibaku dengan pekerjaan kantor dan bagaimana bisa travel lintas benua dalam waktu yang on schedule, dia juga harus berjuanh memikirkan kelangsungan hidup rumahtangganya. Sebut saja dia wonder woman atau ksatria perempuan abad 21, fakta bahwa sebagian besar sumber finansial keuangan berasal dari dirinya, memberikan kesan Kate terlihat arogan dan canggung, setidaknya di mata suami dan mertuanya.

Tapi, semua seakan-akan ditawarkan oleh sekelumit kebahagian yang timbul pada diri lelaki lain. Yang bisa menggairahkan kembali hidupnya yang monoton dengan literasi semangat lewat perantara surel. Ketika dirinya harus dikejar kecemasan memasukkan Emily ke sekolah, apakah di sekolah negeri dengan diwarnai cibiran tetangga atau sekolah swasta dengan risiko Emily menderita anoreksia stadium enam. Di restoran Brody’s Seafood, Kate akhirnya bertemu Jack Abelhammer, setelah sebelumnya hanya bertatap di dunia maya. Dan Kate memiliki urutan prioritas yang secara tidak sadar telah berubah skala kepentingannya.

“Katharine Reddy,” ujarnya dengan suara menggelegar. “Anda tampil d muka sidang Pengadilan Kaum Ibu pada malam ini dengan tuduhan meninggalkan anak yang sakit di London sementara anda terbang ke Amerika untuk urusan bisnis. Bagaimana sanggahan anda?”

Ya Tuhan, jangan yang itu. ” Saya meninggalkan Emily di London saat temperaturnya tinggi itu betul Yang Mulia. Tapi kalau saya membatalkan keberangkatan secara mendadak, Edwin Morgan Forster tidak akan pernah memberikan peluang sebesar itu lagi kepada saya”

“Ibu macam apa meninggalkan putrinya di saat dia sedang sakit?” tuntut si hakim, sambil menatap wanita itu dengan dingin.

“Saya, t-tapii—-“

Pengadilan Kaum Ibu merupakan momok buat Kate Reddy, dan mengapa novel ini begitu terasa dekat dan nyata. Karena baik sekali menggambarkan realitas seorang ibu pekerja di luar sana yang harus hidup seimbang antara keluarga dan pekerjaannya. Tidak hanya seorang working mom dari London, bahkan di Jakarta pun, sebuah ibukota yang terpisah ribuan mil dan, tetap ada benang merah yang membuktikan kaum ibu tidak memandang perbedaan ras dan bahasa.

Kate Reddy menyadarkan banyak hal. Antara kehidupan yang melelahkan dan cinta kasih yang tidak terbatas antara anak dan orangtua. Bahwa Kate Reddy juga mengenal hari minggu yang tak lagi bisa disebut hari libur, karena pekerjaan di dapur dan laundy tetap menyita waktu. Bahwa mengikuti rapat POMG terasa menjadi momok yang menakutkan, karena untuk menghadirinya membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Dan bahwa kehidupan percintaan suami istri yang berada di ambang batas kejenuhan dapat menjadi pemicu letusan gunung berapi kapan pun itu.

Pada Kate Reddy seakan-akan bisa berkaca bahwa rileks itu tetap perlu. Dan di antara keriuhan tersebut rasa sayang kepada keluarga adalah yang utama. Segala yang terlihat manis tapi tidak berada pada perilaku yang wajar dapat menjerumuskan. Dan terkadang rasa ikhlaslah yang menang. Dan keluargalah yang memegang pucuk kebahagian tertinggi, bukan setumpuk laporan keuangan atau pujian penuh misi khusus dari rekan kerja.

Novel ini aku kasi 4 bintang. Kenapa? Karena ceritanya yang mengalir, rinci, menggelitik, membuat aku terhibur. Terhibur karena ternyata aku tak sendiri. Karena ternyata ada tokoh fiksi bernama Kate Reddy yang aku yakin merupakan penjelmaan para working mom di luar sana, yang memiliki beberapa kemiripan jalan cerita denganku.

Novel ini memberikan rasa aman padaku. Entah mengapa. Membacanya seperti aku memiliki teman khayalan yang bisa berbagi cerita denganku.

And that was good.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *